Kamis, September 06, 2012

LINGKUNGAN HIDUP


MENGURANGI BANJIR DAN MENCEGAH KEKERINGAN SERTA MENYEJAHTERAKAN RAKYAT

A. Syarifuddin Karama*

Di musim hujan terjadi banjir, longsor dan erosi yang makin parah dari tahun ke tahun. Pada keadaan vegetasi hutan masih utuh banjir sudah terjadi. Sekarang, vegetasi hutan serta kapasitas serap dan tampung air daratan telah banyak berkurang, banjir makin intensif. Cadangan air untuk musim kemarau makin sedikit. Akibatnya di musim kemarau kita menderita kekeringan. Banjir dan kekeringan merugikan pertanian, perkebunan, peternakan, dan kehutanan serta berdampak buruk bagi permukiman, perdagangan, perindustrian, pelistrikan, pariwisata, kesehatan dan keamanan.
Untuk mengurangi banjir dan mencegah kekeringan dibangun sebanyak mungkin embung, waduk kecil, situ, cek dam diperluas dan sumur / lubang resapan serta sumur Tirta Sakti, mulai dari bagian hulu (atas), bagian tengah sampai ke bagian hilir (bawah) daerah tangkapan hujan (watershed) di kawasan kehutanan, pertanian, perindustrian, permukiman dan lain-lain. Kegiatan ini dapat dilakukan warga masyarakat dengan sedikit bantuan pemerintah dan bimbingan tenaga teknis, sehingga relatif murah, mudah, cepat dan dapat merata di seluruh daerah.
Pencegahan banjir jelas mensejahterakan rakyat. Air yang ditampung dalam embung, waduk, dan cek-dam, atau disimpan di dalam  tanah melalui sumur / lubang resapan dan sumur Tirta Sakti dapat dipakai untuk meningkatkan produksi pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, serta untuk keperluan rumah tangga / permukiman, industri dan lain-lain di musim kemarau maupun musim hujan.
Berbagai hal tersebut akan membuka kesempatan kerja dan usaha seerta memperoleh penghasilan untuk kesejahteraan rakyat dan pendapatan negara.



PENDAHULUAN

Air adalah anugerah Tuhan. Jumlahnya sangat banyak, jauh melebihi semua keperluan (Meinzen Dick and Rosegrant, 2001).  Setiap mahluk hidup memerlukan air. Air memang bukan segalanya, tetapi tanpa air segalanya tiada berarti.

Karena tidak dikelola dengan baik, air nikmat Tuhan tersebut sering menimbulkan masalah. Di musim hujan banyak terjadi banjir, longsor, erosi. Nilai korban dan kerusakan yang diakibatkannya mencapai triliunan rupiah serta cenderung makin besar. Banyak penduduk bertambah miskin karenanya. Sulit menilai harga nyawa manusia yang hilang sebagai korban banjir dan longsor.

Sebaliknya, di musim kemarau kita menderita kekurangan air. Selain itu jumlahnya kurang seringkali kualitasnya buruk; antara lain tercemar polutan, salinitas tinggi, masam, berbau tidak sedap, mengandung banyak butir tanah, kuman, dan lain-l;ain (Van Damme, 2001). Sulit menghitung kerugian karena kekeringan dan terlebih lagi karena turunnya kualitas air. Kemiskinan pun meningkat karena kekeringan.

Tulisan ini membahas tentang sebab terjadinya banjir dan kekeringan. Kemudian dikemukakan cara mengurangi atau mencegahnya yang murah dan sederhana, berdasarkan pengalaman dan studi di bantul – DIY dan DAS Kaligarang – Semarang, serta pengalaman neara lain. Di makalah ini pengurangan banjir dan pencegahan kekeringan dikaitkan dengan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat terutama melalui sektor pertanian, tanpa mengabaikan manfaat yang sangat besar melalui sektor lain.

BANJIR, EROSI DAN LONGSOR

Tanah mempunyai kemampuan tertentu untuk menyerap dan menyimpan air. Kemampuan ini tergantung tekstur, struktur, kandungan bahan organik, ketebalan dan kepadatan solum tanah, serta keadaan vegetasi pada tanah tersebut. Bila jumlah air yang datang lebih besar dari kemampuan tanah menyerap air dan tidak ada jalur untuk air tersebut bergerak ke tempat lain, maka air yang tidak terserap akan menggenangi tanah tersebut. Bila jumlah air yang datang lebih besar dari kemampuan tanah menyerap air dan tidak ada jalur untuk air tersebut bergerak ke tempat lain, maka air yang tidak terserap akan menggenangi tanah tersebut. Kalau air yang tidak terserap tersebut mengalir ke tempat lain, disebut aliran permukaan (run off). Bila aliran permukaan ini jumlahnya besar dan bergerak cepat, daya rusaknya besar terhadap lahan yang dilaluinya. Air aliran permukaan secara alami akan berkumpul dan menggenangi tempat yang lebih rendah yaitu danau dan rawa atau masuk ke sungai dan terus mengalir ke laut. Selama kelebihan air tertampung oleh danau, rawa dan sungai, banjir tidak terjadi. Bila jumlah air yang masuk ke sungai lebih besar daripada air yang keluar ke laut, maka air akan meluap, menggenangi lahan di sekitar sungai, danau dan rawa tersebut. Genangan, luapan dan aliran permukaan yang cukup besar disebut banjir.
Aliran permukaan seringkali membawa butir tanah dan humus dari tanah yang dilaluinya disebut erosi. Bahan yang terbawa terebut diendapkan kembali antara lain di danau, rawa, sungai, serta di kawasan banjir dan di laut.

Air yang tergenang dan meresap ke dalam tanah meningkatkan bobot dan daya tekan terhadap tanah di bawahnya. Kalau daya tanah  lebih kecil dari bobot tanah serta air di atas dan di dalamnya, maka pada lokasi yang miring badan tanah tersebut akan bergerak ke bawah yang disebut longsor. Longsor juga tergantung adanya penahan / pengikat tanah, disamping kemiringan, serta faktor-faltor yang mempengaruhi daya serap air. Penahan dan pengikat tanah adalah perakaran pohon. Tanah yang mengalami kekeringan parah di musim kemarau sangat mudah longsor bila mendapat banyak air di musim hujan.

Di musim hujan, seringkali jumlah air hujan dalam waktu tertentu melebihi kemampuan lahan menyerap, menyiompan dan menampung air. Air kelebihan ini akan mengalir di permukaan tanah dan menyebabkan terjadinya banjuir, eropsi dan longsor. Pada keadaan begetasi hutan masih utuh, banir sudah teriong terjadim, tetapi longsor dan erosi jarang terjadi,. Sekarang, vegetasi hutan dan kemampuan lahan menyerap dan menyimpan air banyuak berkirang, maka banir, longsor dan eroi lebih sering tyerjkadi dal lebih parah akibatynya. Jika ada La-Nina, banjir, longsior dan segala akibatnya sangat parah. Aada atau tidak ada La-Nina, banjior selalu ada. Oleh karena itru upaya pengurangan dan pengendalian banjir haruis dilakukan seoptimal mungkin.

KEKERINGAN

Air keluar dari tanah berupa penguapan  ke udara langsung dari permukaan tanah (evaporasi), melalui tanaman (transpirasi), mengalir ke lapisan yang lebih dalam (perkolasi), dan bergerak ke samping (seepange). Sebagian air perkolasi dan seepage akan keluar kembali di tempat yang lebih rendah melalui mata air ke sumur, danau, sungai. Sebagian lainnya akan mengisi aquifer.

Perkolasi dan seepage terjadi bila tanah jenuh air, misalnya, setelah hujan lebat atau setelah diirigasi sampai jenuh air. Pada saat perkolasi dan seepage berhenti, kelembaban tanah berada pada kapasitas lapang. Evaporasi dan transpirasi mengurangi kelembaban tanah lebih lanjut. Kalau kelembaban tanah terus berkurang sampai mencapai titik laju permanen dan tidak ada pasokan air, tanaman mati kekeringan. Umumnya  tanaman terganggu kalau kelembaban tanah 75% kapasitas lapang atau lebih kering. Makin dekat kelembaban tanah ke layu permanen, makin kecil evaporasi dan transpirasi serta makin rendah produksi tanaman dan mutu hasilnya. Keadaan ini umumnya terjadi bila tidak ada hujan efektif atau pengairan selama 5 hari atau lebih berturut-turut.

Kalau lama tidak ada hujan (satu bulan atau lebih), maka pengisian air danau, rawa, waduk dan sungai makin berkurang bahkan berhenti. Bersamaan dengan ini, evaporasi, transpirasi, perkolasi, seepage dan aliran ke laut terus berlangsung.  Pada keadaan ini bukan hanya tanah dan tanaman yang mengalami kekeringan, tetapi juga lahan dan kawasan.
Kekeringan pada lahan dan kawasan selain mengurangi produktivitas  dan kualitas hasil tanaman, juga menganggu kehutanan, peternakan dan perikanan serta  sektor lain seperti permukiman, perlistrikan, perdagangan, perindustrian, pariwisata, lingkungan hidup, kesehatan, dan keamanan. Tidak tersedianya air di kawasan hutan di musim kemarau mempersulit upaya mengatasi kebakaran hutan, serta memelihara tanaman reboisasi dan penghijaun lahan yang terbuka.

Kekeringan makin intensif, karena jumlah air yang dapat disimpan di dataran selama musim hujan sebagai cadangan air bagi musim kemarau semakin berkurang. Selain itu, kualitas air juga makin rendah. Hasil pengamatan Fakultas Geografi Universitas Gajahmada di beberapa daerah, menemukan bahwa setelah pembukaan hutan primer, jumlah hujan berkurang cukup besar, namun pola distribusi tahunannya tetap sama. Kekeringan sangat parah jika terjadi El-Nino. Ada atau tidak ada El-Nino, akhir-akhir ini kekeringan selalu ada, dan semakin parah. Oleh karena itu kita harus berupaya semaksimal mungkn mencegah terjadinya kekeringan.

PENGAIRAN

Air tanah dapat mengisi kelembaban tanah diperakaran tanaman melalui kapilarisasi, tetapi jarang mencapai kapasitas lapangan. Oleh karena itu, untuk mencegah kekeringan dan memperoleh jumlah dan mutu produksi tanaman yang tinggi, diperlukan pengairan agar kelembaban tanah selalu optimal yaitu berada di sekitar kapasitas lapang.
Air  pengairan dapat berasal dari danau, waduk, sungai, air tanah (sumur), aquifer, embung, kolam, dan situ. Pada dasarnya waduk, embung, kolam, dan situ adalah danau buatan yang menampung air aliran perrmukaan.

Pengairan di Indonesia sangat fluktuatif, mengikuti pola hujan. Di musim hujan tersedia air pengairan bagi sekitar 4,6 juta ha dan di musim kemarau sekitar 1,7 juta ha (FAO, 2000). Sistem pengairan di Indonesia selama ini banyak mendukung usaha budidaya padi sawah. Untuk keperluan tanaman lain, ternak dan ikan sangat terbatas. Air dari waduk-waduk besar dipakai juga untuk keperluan pembangkit tenaga lisrik, air minum, industrri dan kebersihan kota. Jika terjadi kekurangan air, maka air untuk pertanian mendapat prioritas rendah (Rosegrant and Cai, 2001).

Pada lahan tadah hujan, meskipun di musim hujan, produktivitas tanaman tidak maksimal, seringkali hanya 50 – 60 persen dari produktivitas tanaman yang diirigasi. Misalnya, produktivitas jagung hibrida pada lahan tadah hujan di musim hujan hanya sekitar 5 ton/ha; jika diirigasi dapat mencapai 8 – 10 ton/ha. Di musim kemarau perbedaan produktivitas ini lebih besar (Karama dan Kaswanda, 2001a).

Dengan fluktuasi pengairan seperti di atas, sebagian besar tanaman ditanam di musim hujan (Oktober – Desember), sehingga panen menumpuk di pertengahan atau di akhir musim hujan yaitu bulan Januari sampai April (BPS 1999a, BPS 199b). Akibatnya, seringkali  produktifitas tidak maksimal dan mutu produksi tidak prima karena sarana prasarana pengeringan dan pengolahan terbatas. Selain itu sarana prasarana produksi dan pengolahan hasil serta alat mesin pertanian bekerja keras di musim hujan dan kurang terpakai di musim kemarau. Fluktuasi ini merendahkan efisiensi usaha subsistem agribisnis hulu dan hilir, disamping usaha subsistem budidaya, sehingga daya saing produk pertanian Indonesia relatif lemah.

MENGURANGI BANJIR DAN MENCEGAH KEKERINGAN

Kapasitas lahan menyerap air, kapasitas tampung danau dan rawa serta kapasitas sungai menampung dan menyalurkan air makin kecil, sehingga banjir makin parah. Jumlah air yang ditahan dan disimpan di daratan makin kecil, sehingga persediaan air untuk musim kemarau makin sedikit dan kekeringan makin parah pula.

Logisnya untuk mengurangi banjir dan mencegah kekeringan adalah dengan memperbesar kapasitas daratan menahan dan menyimpan air, yaitu memperbesar kapasitas lahan menyerap air serta kapasitas tampung danau, rawa dan sungai. Pengerukan sungai dan danau untuk memperbesar kapasitasnya dapat dilakukan kalau tersedia dana yang cukup besar. Kenyataannya, kita selalu kekurangan dana untuk keperluan ini.

Memperbesar kapasitas lahan menyerap air antara lain dengan memperluas kembali lahan yang tertutup vegetasi dengan baik. Namun tidak semua lahan yang sudah terbuka dapat ditanami kembali. Selain itu untuk vegetasi baru berfungsi memperbaiki kapasitas lahan menyerap air dengan baik diperlukan waktu yang relatif lama. Seringkali kita gagal menanami kembali lahan terbuka karena kekeringan, kebakaran, diganggu aliran permukaan atau berbagai penyebab lain.

Membangun danau atau waduk raksasa seperti Jatiluhur sangat mahal, memerlukan teknologi tinggi /tenaga ahli khusus, lokasinya terbatas, hasilnya terkonsentrasi pada kawasan tertentu, serta mempunyai beberapa dampak negatif terhadap lingkungan sosial dan lingkungan hidup.

Upaya yang relatif sederhana dan sangat mungkin dilakukan adalah membangun sebanyak mungkin kolam penampung air ukuran kecil yang biasa dikenal embung atau waduk kecil, situ, dan kolam. Penampungan air ini berkapasitas 4000 – 8000 meter kubik. Penampung air kecil dapat dibangun oleh masyarakat,  karena tidak memerlukan keahlian tinggi, hanya dengan konstruksi tanah, relatif murah dan mudah menempatkannya di lapang.

Meskipun demikian, di daerah berpenduduk padat seperti di Jawa, lokasi untuk membangun embung juga terbatas. Upaya lain untuk menampjung / menyimpan kelebihan air adalah dengan membuat sumur resapan sebanyak mungkin. Melalui sumur resapan, air diresapkan ke lapisan tanah yang lebih dalam dan lebih luas sehingga kapasitas resapnya menjadi lebih besar. Sumur resapan ini efektif pada lokasi yang tinggi seperti di puncak dan di lereng bukit atau gunung. Sumur resapan dapat dibuat di halaman rumah, kantor, sekolah, pasar, kebun, hutan, tegalan, di dalam embung dan sebagainya, tidak memerlukan lahan yang luas dan tidak banyak menggangu keperluan lain.

Bagi kebanyakan warga masyarakat, terutama di pedesaan dan kawasan urban, biaya pembuatan sumur resapan dirasakan mahal, yaitu di sekitar Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah) per sumur.  Oleh karena itu masyarakat lebih menyukai lubang atau rorak resapan. Lubang resapan ini berukuran (1-3) x (1-3) x (2-3) meter kubik. Bentuk yang lebih sederhana adalah lubang berdiameter 10 – 15 cm dan 2 – 3 meter dalamnya. Lubang sederhana ini dapat dibuat berbaris sepanjang pagar atau berkumpul 10 – 20 lubang di satu tempat. Lubang resapan sebaiknya diisi sampah organik, yang berfungsi untuk menahan dinding lubang agar tidak runtuh, anak-anak dan hewan peliharaan tidak terperosok, menyuburkan tanah dan sebagai media hidup dan berkembangnya cacing tanah. Keberadaan cacing tanah sangat penting untuk melubangi dinding rorak, sehingga daya resap tanah makin besar. Lubang resapan dapat dibuat di halaman, di kebun, tegalan, di pasar, di kiri kanan jalan raya, di taman dan lain-lain.

Di dataran rendah, dekat pantai (Jakarta, Semarang, Surabaya, Banjarmasin dll) yang air tanahnya dangkal atau tanahnya terlalu jenuh air atau kedap air, sumur lubang resapan biasa tidak efektif. Kelebihan air di kawasan seperti ini harus dimaksukkan ke lapisan aquifer melalui sumur Tirta Sakti. Air yang dimasukkan ke “aquifer” harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Sumur Tirta Sakti dikembangkan oleh Universitas Trisakti, Jakarta, dan ada contohnya di sana. Sumur Tirta Sakti ini pun dapat dibuat di berbagai tempat dan tidak memerlukan lahan yang luas (Juawana dan Sabri, 2001).

Di kiri-kanan sungai besar  dan di sekeliling danau yang selalu diluapi banjir di musim hujan, sebaiknya dibangun embung sebanyak mungkin, untuk menampung dan menyimpan air luapan (Imam Utomo, Guibernur Propinsi Jawa Timur, 2001, komunikasi pribadi). Di sepanjang sungai kecil sering dibuat cek dam. Namun selama ini kapasitas tampung air cek dam relatif sangat kecil. Untuk menambah kapasitas cek dam, bagian sebelah hulu dam dapat diperdalam dan diperluas.

Air di dalam embung, waduk, situ, kolam, cek dam, yang diresap oleh sumur / lubang resapan  dan yang dimasukkan ke aquifer, memperbesar jumlah air yang tertahan / tersimpan di daratan. Air ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan di musim kemarau untuk mencegah kekeringan. Jika perlu dipergunakan pompa untuk memanfaatkan air ini.
Secara singkat disimpulkan untuk mengurangi banjir dan mencegah kekeringan sebagai suatu kesatuan upaya adalah dengan membangun penampung air kecil, sek dam diperbesar, “sumur/lubang resapan” dan sumur Tirta Sakti sebanyak mungkin mulai dari bagi hulu (atas), bagian tengah sampai bagian hilir (bawah), kawasan luapan banjir (flood plain) di setiap daerah tangkapan hujan (watershed) di kawasan hutan, pertanian, permukiman, perindustrian, pertamanan dan lain-lain (Karama dan Kaswanda, 2001b) dan 2001c). Kegiatan ini dapat dilakukan oleh warga masyarakat dengan sedikit bantuan dari pemerintah dan bimbingan tenaga teknis. Bersamaan dengan kegiatan ini, agar dilakukan penanaman kembali lahan terbuka seluas mungkin. Pengalaman lapangan menunjukan bahwa penanaman kembali vegetasi di lahan terbuka akan berhasil bila ada air untuk menyiram tanaman serta memadam kebakaran, serta tidak ada aliran permukaan yang menerjang dan menghanyutkan tanaman. Keberadaan air embung dan sumur resapan dapat mengatasi masalah ini dan agar tetap dipertahankan meskipun vegetasi sudah pulih kembali.

Membangun embung, waduk kecil, situ, cek dam diperbesar, sumur / lubang resapan dan sumur Tirta Sakti jauh lebih murah, mudah, cepat, merata di seluruh daerah, lebih efektif dan efisien daripada membangun waduk atau bendungan raksasa pada kondisi negara Indonesia seperti sekarang. Negara-negara maju sepeti Australia, Perancis dan USA membangun embung dan sejenis serta sumur resapan.

MENYEJAHTERAKAN RAKYAT

Banjir, erosi, logsor dan kekeringan jelas menyengsarakan rakyat. Oleh karena itu mencegah terjadinya bencana tersebut lebih baik dan lebih murah dari pada menanggulangi akibatnya. Pencegahan terjadinya bencana tersebut adalah salah satu bentuk mensejahterakan rakyat.

Akan lebih bermanfaat bila upaya pencegahan dilakukan dengan membuat embung, situ, waduk, kolam, serta cek dam diperluas dan diperdalam,  sumur/lubang resapan atau sumur Tirta Sakti daripada memperdalam sungai dan danau atau membuat saluran khusus untuk membuang air ke laut.

Di musim kemarau, air yang tersimpan, di permukaan atau di dalam tanah dapat dipakai untuk bertanam, sehingga fluktuasi produksi, fluktuasi aktifitas pertanian serta fluktuasi penggunaan sarana dan prasarana pertanian dapat diminimalkan. Selain itu mutu dan jumlah hasil pertanian akan meningkat. Sistem pertanian yang demikian akan efisien dan berkelanjutan, sehingga daya saing produk pertaniannya menjadi lebih kuat.

Air permukaan dan air tanah tesebut dapat juga dipakai untuk memelihara ternak dan ikan, memenuhi keperluan rumah tangga, industr, penghijauan, reboisasi, pariwisata, listrik dan lain-lain. Salah satu faktor yang menghambat perkembangan teknak di Indonesia adalah kekurangan air minum ternak dan air untuk tanaman pakan ternak di musim kemarau.

Hal-hal yang dikemukakan di atas akan membuka kesempatan berusaha serta memperoleh hasil dan pendapatan yang lebih besar, akan mengurangi pengangguran dan kerusuhan. Dengan membangun embung, situ, waduk, kolam, cek dam diperluas, sumur / lubang resapan atau Sumur Tirta Sakti kita merubah bencana, kesengsaraan dan kerusuhan menjadi kesejahteraan keamanan dan kedamaian.

PENGORGANISASIAN DAN PEMBIAYAAN

Berdasarkan ukuran, hubungan antara jenis metoda, manfaat dan kemampuan masyarakat, serta sistem pemerintahan otonomi daerah / desentralistis, disarankan organisasi dan pembiayaan seperti berikut :
Embung, situ, waduk dan cek dam diprogramkan dibiayai oleh pemerintah propinsi atau kabupaten / kota. Pada keadaan tertentu dapat melibatkan masyarakat dengan sistem padat karya. Propinsi atau kabupaten yang wilayahnya luas dan tenaga kerja kurang, dapat menggunakan alat-alat berat dalam pembangunannya. Bangunan-bangunan kelompok ini yang agak besar ukurannya, perlu dirancang oleh tenaga ahli, untuk menghindari risiko bobol dan lain-lain.

Sumur atau lubang resapan dapat dikerjakan oleh masing-masing warga masyarakat dengan bimbingan dari jajaran pemerintah daerah, desa, kecamatan, dan kabupaten / kota. Kalau warga mampu membangun sumur resapan sendiri, itu akan sangat baik. Hal ini mungkin dilakukan di kawasan permukiman mewah, kompleks pabrik / industri besar, perhotelan, perkebunan besar, dll. Kebanyakan warga masyarakat mungkin harus dimotivasi dengan insentif, kemudahan atau subsidi, misalnya di permukiman rakyat umum, di pasar, di sekolah, perkantoran, kebun rakyat, tegalan umum, di rumah ibadah, taman-taman umum dan lain-lain. Dana yang diperlukan untruk setiap lubang resapan sekitar Rp. 10.000 (sepuluh ribu rupiah) sebagai insentif atau upah padat karya.


BACAAN

1.    Ban Damme, H. 2001. Domestic  Water Supply, Hygiene, and Santation. Overcoming Water Scarcity and Quality Constraints. IFPRI, Washington, DC, USA.
2.    BPS 1999a, Survey Pertanian. Produksi Tanaman Padi di Indonesia. Badan Pusat Statistik Indonesia, Jakarta.
3.    —, 1999b, Survey Pertanian.  Produksi Tanaman Palawija di Indonesia. Badan Pusat Statistik Indonesia, Jakarta.
4.    FAO, 2000. Selected Indicators of Food and agriculture Development in Asia-Pasific Region 1989 – 1999. FAO Regional Office for Asia and The Pasific, Bangkok, Thailand.
5.    Juwana, J.S. dan A. Sabri, 2001. Sumur Resapan Tirta Sakti dalam Kaitannya dengan Potensi Persediaan Air Tanah. Seminar Antisipasi El-Nino, Implementasi Budaya Hemat Air di Indonesia, PERAGI bekerjasama dengan PERHIMPI, Bogor 21 – 22 Februari, 2001.
6.    Karama, A.S. dan Kaswanda, 2001a. Air dan Ketahanan Panganserta Kesejahteraan Petani. Direktorat Jendeal Bina Produksi Tanaman Pangan, Departemen Pertanian RI, Jakarta, Indonesia.
7.    ——————–, 2001b. Membangun Embung (Penampung Air). Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan,  Departemen Pertanian RI, Jakarta, Indonesia.
8.    ——————–, 2001c. Mengisi Air Tanah dengan Sumur Resapan dan Memanfaatkannya Kembali.  Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan,  Departemen Pertanian RI, Jakarta, Indonesia.
9.    Meinzen-Dick, R.S. and M.W. Rosegrant, 2001. Overview. Overcoming Water Scarcity and Quality Constraints. IFPRI. Washington, DC, USA.

Link : http://bebasbanjir2025.wordpress.com/10-makalah-tentang-banjir-2/a-syarifuddin-karama/


* A. Syarifuddin Karama, staf ahli Menteri Pertanian RI Bidang Teknologi / Ahli Peneliti Utama, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian / Ketua Umum PERAGI.

Senin, September 03, 2012

LINGKUNGAN HIDUP


LINGKUNGAN HIDUP
Sebuah Pengantar

Adaptasi : Cosa Rinaldy Ardiananda


1.    Pengertian

Lingkungan adalah sesuatu yang berada di luar atau sekitar mahluk hidup. Para ahli lingkungan memberikan definisi bahwa Lingkungan (enviroment atau habitat) adalah suatu sistem yang kompleks dimana berbagai faktor berpengaruh timbal-balik satu sama lain dan dengan masyarakat tumbuh-tumbuhan. Menurut Ensiklopedia Kehutanan menyebutkan bahwa Lingkungan adalah jumlah total dari faktor-faktor non genetik yang mempengaruhi pertumbuhan dan reproduksi pohon. Ini mencakup hal yang sangat luas, seperti tanah, kelembaban, cuaca, pengaruh hama dan penyakit, dan kadang-kadang intervensi manusia.

Istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi. Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Kepentingan atau pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadap masyakat tumbuhan berbeda-beda pada saat yang berlainan. Suatu faktor atau beberapa faktor dikatakan penting apabila pada suatu waktu tertentu faktor atau faktor-faktor itu sangat mempengaruhi hidup dan tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, karena dapat pada taraf minimal, maximal atau optimal, menurut batas-batas toleransi dari tumbuh-tumbuhan atau masyarakat masing-masing. Lingkungan terbagi 2 yaitu :
a.    Komponen biotik (komponen makhluk hidup), misalnya binatang, tumbuh-tumbuhan, dan mikroba.
b.    Komponen abiotik (komponen benda mati), misalnya air, udara, tanah, dan energi.

Berdasarkan segi trofik atau nutrisi, maka komponen biotik dalam ekosistem terdiri atas dua jenis sebagai berikut :
a.    Komponen autotrofik (autotrophic). Kata autotrofik berasal dari kata autos artinya sendiri, dan trophikos artinya menyediakan makanan. Komponen autotrofik, yaitu organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis makanannya sendiri berupa bahan organik berasal dari bahan-bahan anorganik dengan bantuan klorofil dan energi utama berupa radiasi matahari. Oleh karena itu, organisme yang mengandung klorofil termasuk ke dalam golongan autotrof dan pada umumnya adalah golongan tumbuh-tumbuhan. Pada komponen nutrofik terjadi pengikatan energi radiasi matahari dan sintesis bahan anorganik menjadi bahan organik kompleks.
b.    Komponen heterotrofik (heterotrofhic). Kata heterotrof berasal dari kata hetero artinya berbeda atau lain, dan trophikos artinya menyediakan makanan. Komponen heterotrofik, yaitu organisme yang hidupnya selalu memanfaatkan bahan organik sebagai bahan makanannya, sedangkan bahan organik yang dimanfaatkan itu disediakan oleh organisme lain. Jadi, komponen heterotrofit memperoleh bahan makanan dari komponen autotrofik, kemudian sebagian anggota komponen ini menguraikan bahan organik kompleks ke dalam bentuk bahan anorganik yang sederhana dengan demikian, binatang, jamur, jasad renik termasuk ke dalam golongan komponen heterotrofik.

Odum (1993) mengemukakan bahwa semua ekosistem apabila ditinjau dari segi struktur dasarnya terdiri atas empat komponen. Pernyataan yang serupa juga dikemukakan oleh Resosoedarmo dkk. (1986) bahwa ekosistem ditinjau dari segi penyusunnya terdiri atas empat kompoenen, yaitu komponen abiotik, komponen biotik yang mencakup produsen, konsumen, dan pengurai. Masing-masing dari komponen itu diuraikan sebagai berikut:
Komponen Abiotik (benda mati atau nonhayati), yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri atas tanah, air, udara, sinar matahari, dan lain sebagainya yang berupa medium atau substrat untuk berlangsungnya kehidupan. Menurut Setiadi (1983), komponen biotik dari suatu ekosistem dapat meliputi senyawa dari elemen inorganik misalnya tanah, air, kalsium, oksigen, karbonat, fosfat, dan berbagai ikatan senyawa organik. Selain itu, juga ada faktor­faktor fisik yang terlibat misalnya uap air, angin, dan radiasi matahari.

Komponen produsen, yaitu organisme autotrofik yang pada umumnya berupa tumbuhan hijau. Produsen menggunakan energi radiasi matahari dalam proses fotosintesis, sehingga mampu mengasimilasi CO, dan H20 menghasilkan energi kimia yang tersimpan dalam karbohidrat. Energi kimia inilah sebenarnya merupakan sumber energi yang kaya senyawa karbon. Dalam proses fotosintesis tersebut, oksigen dikeluarkan oleh tumbuhan hijau kemudian dimanfaatkan oleh semua makhluk hidup di dalam proses pemapasan.

Komponen konsumen, yaitu organisme heterotrofik misalnya binatang dan manusia yang makan organisme lain. Jadi, yang disebut sebagai konsumen adalah semua organisme dalam ekosistem yang menggunakan hasil sintesis (bahan organik) dari produsen atau dari organisme lainnya. Berdasarkan kategori tersebut, maka yang termasuk konsumen adalah semua jenis binatang dan manusia yang terdapat dalam suatu ekosistem. Konsumen dapat digolongkan ke dalam: konsumen pertama, konsumen kedua, konsumen ketiga, dan mikrokonsumen (Resosoedarmo dkk., 1986; Setiadi, 1983).

Konsumen pertama adalah golongan herbivora, yaitu binatang yang makan tumbuh-tumbuhan hijau. Contoh organisme yang termasuk herbivora adalah serangga, rodensia, kelinci, kijang, sapi, kerbau, kambing, zooplankton, crustaeeae, dan mollusca. Konsumen kedua adalah golongan karnivora kecil dan omnivora. Karnivora kecil, yaitu binatang yang berukuran tubuh lebih kecil dari karnivora besar dan memakan binatang lain yang masih hidup, misalnya anjing, kucing, mbah, anjing hutan, burung prenjak, burung jalak, dan burung gagak. Omnivora, yaitu organisme yang memakan herbivora dan tumbuh-tumbuhan, misalnya manusia dan burung gereja. Konsumen ketiga adalah golongan karnivora besar (karnivora tingkat tinggi). Karnivora besar, yaitu binatang yang memakan atau memangsa karnivora kecil, herbivora, maupun omnivora, misalnya singa, harimau, serigala, dan burung rajawali.

Mikrokonsumen adalah tumbuhan atau binatang yang hidupnya sebagai parasit, scavenger, dan saproba. Parasit tumbuhan maupun binatang hidupnya bergantung kepada somber makanan dari inangnya. Sedangkan scavenger dan saproba hidup dengan makan bangkai binatang dan tumbuhan yang telah mati.

Komponen pengurai, yaitu mikroorganisme yang hidupnya bergantung kepada bahan organik dari organisme mati (binatang, tumbuhan, dan manusia yang telah mati). Mikroorganisme pengurai tersebut pada umumnya terdiri atas bakteri dan jamur. Berdasarkan atas tahap dalam proses penguraian bahan organik dari organisme mati, maka organisme pengurai terbagi atas dekomposer dan transformer (Setiadi, 1983). Dekomposer, yaitu mikroorganisme yang menyerang bangkai hewan dan sisa tumbuhan mati, kemudian memecah bahan organik kompleks ke dalam ikatan yang lebih sederhana, dan proses dekomposisi itu disebut humifikasi yang menghasilkan humus. Transformer, yaitu mikroorganisme yang meneruskan proses dekomposisi dengan mengubah ikatan organik sederhana ke dalam bentuk bahan anorganik yang siap dimanfaatkan lagi oleh produsen (tumbuh-tum­buhan), dan proses dekomposisi itu disebut mineralisasi yang menghasilkan zat hara.

2.    Ekosistem

Pengertian ekosistem pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli ekologi berkebangsaan Inggris bernama A.G. Tansley pada tahun 1935, walaupun konsep itu bukan merupakan konsep yang baru. Sebelum akhir tahun 1800-an, pernyataan-pernyataan resmi tentang istilah dan konsep yang berkaitan dengan ekosistem mulai terbit cukup menarik dalam literatur-literatur ekologi di Amerika, Eropa, dan Rusia (Odum, 1993). Beberapa definisi tentang ekosistem dapat diuraikan sebagai berikut :
a.    Ekosistem adalah suatu unit ekologi yang di dalamnya terdapat hubungan antara struktur dan fungsi. Struktur yang dimaksudkan dalam definisi ekosistem tersebut adalah berhubungan dengan keanekaragaman spesies (species diversity). Ekosistem yang mempunyai struktur yang kompleks, memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi. Sedangkan istilah fungsi dalam definisi ekosistem menurut A.G. Tansley berhubungan dengan siklus materi dan arus energi melalui komponen komponen ekosistem.
b.    Ekosistem atau sistem ekologi adalah merupakan pertukaran bahan-bahan antara bagian-bagian yang hidup dan yang tak hidup di dalam suatu sistem. Ekosistem dicirikan dengan berlangsungnya pertukaran materi dan transformasi energi yang sepenuhnya berlangsung diantara berbagai komponen dalam sistem itu sendiri atau dengan sistem lain di luarnya.
c.    Ekosistem adalah tatanan dari satuan unsur-unsur lingkungan hidup dan kehidupan (biotik maupun abiotik) secara utuh dan menyeluruh, yang saling mempengaruhi dan saling tergantung satu dengan yang lainnya. Ekosistem mengandung keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas dengan lingkungannya yang berfungsi sebagai suatu satuan interaksi kehidupan dalam alam (Dephut, 1997).
d.    Ekosistem, yaitu tatanan kesatuan secara kompleks di dalamnya terdapat habitat, tumbuhan, dan binatang yang dipertimbangkan sebagai unit kesatuan secara utuh, sehingga semuanya akan menjadi bagian mata rantai siklus materi dan aliran energi (Woodbury, 1954 dalam Setiadi, 1983).
e.    Ekosistem, yaitu unit fungsional dasar dalam ekologi yang di dalamnya tercakup organisme dan lingkungannya (lingkungan biotik dan abiotik) dan di antara keduanya saling memengaruhi (Odum, 1993). Ekosistem dikatakan sebagai suatu unit fungsional dasar dalam ekologi karena merupakan satuan terkecil yang memiliki komponen secara lengkap, memiliki relung ekologi secara lengkap, serta terdapat proses ekologi secara lengkap, sehingga di dalam unit ini siklus materi dan arus energi terjadi sesuai dengan kondisi ekosistemnya.
f.     Ekosistem, yaitu tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi (UU Lingkungan Hidup Tahun 1997). Unsur-unsur lingkungan hidup baik unsur biotik maupun abiotik, baik makhluk hidup maupun benda mati, semuanya tersusun sebagai satu kesatuan dalam ekosistem yang masing-masing tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa hidup sendiri, melainkan saling berhubungan, saling mempengaruhi, saling berinteraksi, sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan.
g.    Ekosistem, yaitu suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Soemarwoto, 1983). Tingkatan organisasi ini dikatakan sebagai suatu sistem karena memiliki komponen-komponen dengan fungsi berbeda yang terkoordinasi secara baik sehingga masing-masing komponen terjadi hubungan timbal balik. Hubungan timbal balik terwujudkan dalam rantai makanan dan jaring makanan yang pada setiap proses ini terjadi aliran energi dan siklus materi.

Lingkungan ekosistem terdiri atas dua jenis :
a.    Lingkungan biotik (komponen makhluk hidup), misalnya hewan, tumbuh-tumbuhan dan mikroba.
b.    Lingkungan abiotik (komponen benda mati), misalnya cahaya, air, udara, tanah, dan energi.

Dari segi makanan ekosistem memiliki 2 komponen yang biasanya secara bagian terpisah dalam ruang dan waktu yaitu:
a.    Komponen autotrofik (autotrophic). Kata autotrofik berasal dari kata autos artinya sendiri, dan trophikos artinya menyediakan makanan. Komponen autotrofik, yaitu organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis makanannya sendiri berupa bahan organik berasal dari bahan-bahan anorganik dengan bantuan klorofil dan energi utama berupa radiasi matahari. Oleh karena itu, organisme yang mengandung klorofil termasuk ke dalam golongan autotrof dan pada umumnya adalah golongan tumbuh-tumbuhan hijau. Pada komponen autotrofik terjadi pengikatan energi radiasi matahari dan sintesis bahan anorganik menjadi bahan organik kompleks.
b.    Komponen heterotrofik (heterotrofhic). Kata heterotrof berasal dari kata hetero artinya berbeda atau lain, dan trophikos artinya menyediakan makanan. Komponen heterotrofik, yaitu organisme yang hidupnya selalu memanfaatkan bahan organik sebagai bahan makanannya, sedangkan bahan organik yang dimanfaatkan itu disediakan oleh organisme lain. Jadi, komponen heterotrofit memperoleh bahan makanan dari komponen autotrofik, kemudian sebagian anggota komponen ini menguraikan bahan organik kompleks ke dalam bentuk bahan anorganik yang sederhana dengan demikian, binatang, jamur, jasad renik termasuk ke dalam golongan komponen heterotrofik.

Ekosistem dari segi struktur terdiri dari 4 komponen :
a.    Komponen abiotik
b.    Komponen produsen
c.    Komponen konsumen (herbivora, carnivora dan omnivora)
d.    Komponen pengurai (dekomposer)

3.    Masalah Lingkungan

Tulisan lama di BBC tentang bumi yang berada dalam tekanan. setidaknya ada enam permasalahan lingkungan hidup yang harus ditemukan jawabannya, yaitu :
a.    Makanan: diperkirakan 1 dari 6 orang di dunia menderita kelaparan dan gizi buruk
b.    Air: diperkirakan pada tahun 2025, dua pertiga orang di dunia akan mengalami krisis air yang parah
c.    Energi: produksi minyak bumi mencapai puncaknya dan mulai menurun pada tahun 2010
d.    Perubahan Iklim: tantangan terbesar adalah perubahan iklim, ang menyebabkan meningkatnya badai, banjir, kekeringan dan hilangnya spesies
e.    Keanekaragaman hayati: Bumi yang sekarang telah memasuki tahap kepunahan spesies keenam terbesar
f.     Polusi: bahan kimia berbahaya ditemukan di semua generasi baru dan diperkirakan satu dari empat orang di dunia terpapar polusi udara yang tak sehat

4.    Solusi Masalah Lingkungan

Masalah lingkungan yang semangkin hari semangkin parah memang cukup memeprihatinkan sehinga banyak timbul berbagai ide untuk tetap melestarikan lingkungan agar tetap lestari dari beberapa ide tersebut ternyata ada beberapa ide yang tergolong unik dan mungkin kurang masuk akal. Berikut ini ada 10 Ide Unik Dalam Mengatasi Masalah Lingkungan, seperti apa saja idenya, simak berikut ini :

a.    Melingkari bumi dengan kaca pemantul sinar
Ketika kita sedang berada di pantai, kita mungkin ingin menghindari silaunya sinar matahari dengan memakai kacamata hitam atau sebuah topi. Beberapa ilmuwan mengusulkan strategi serupa dalam menurunkan pemanasan global: membuat sebuah cincin pemantul sinar matahari dan debu angkasa di orbit sekitar daerah khatulistiwa. Ide ini akan menurunkan jumlah radiasi sinar matahari yang mengenai planet dan beberapa pemicu gas rumah kaca. Ide liar ini akan berbiaya sangat mahal, dengan potensi harga sekitar trilyunan dollar Amerika.

b.    Mengisi laut dengan material besi
Ini adalah ide dasarnya: proses fotosintesis plankton memerlukan karbon dioksida dari udara untuk membuat makanan. Ketika plankton mati, mereka akan tenggelam ke dasar lautan bersama dengan karbon yang di hisapnya. Karena besi merangsang pertumbuhan plankton, beberapa orang menyatakan untuk memupuk lautan dengan material besi untuk menciptakan banyak plankton yang dapat menghisap karbon dioksida. Beberapa perusahaan swasta bergabung untuk menumpahkan besi ke dalam laut untuk menjual kredit karbon, tetapi para ilmuwan mempertanyakan seberapa efektifkah penyerapan karbon. Beberapa kelompok pecinta lingkungan juga memperingatkan bahwa besi dapat melukai ekosistem lokal.

c.    Terus gerakkan dan campurkan lautan
Ahli lingkungan dan pakar masa depan James Lovelock, pencipta hipotesa Gaia, membuat skema yang lucu dalam mengatasi pemanasan global. Ide lovelock adalah menggunakan pipa untuk menstimulasi bercampurnya lautan-lautan di dunia, sampai ke kedalaman, air kaya nutrsi akan memberi makan kumpulan ganggang yang akan mengisap karbon dioksida dari atmosfir dan tenggelam bersama ganggang ke dasar lautan ketika mati. Tetapi metode ini hanya bersifat sementara, karena pemanasan akan terus terjadi.

d.    Mengisi udara dengan belerang
Beberapa tipe aerosol atau penyegar udara, partikel-partikel kecil akan terperangkap di udara dan mengakibatkan efek pendinginan di atmosfir. Partikel-partikel ini akan menghalangi beberapa radiasi panas matahari dan menghamburkannya kembali ke angkasa. Efek pendinginan pada iklim bumi biasanya dapat terlihat setelah letusan gunung berapi, yang mana memuntahkan berjuta-juta ton belerang ke dalam atmosfir. Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa untuk mentetralkan pemanasan global, kita dapat meniru perilaku alam dengan menginjeksikan belerang ke dalam atmosfir. Satu masalah yang akan muncul adalah rencana ini akan mengakibatkan hujan asam.

e.    Biarkan cacing berada di dapur
Cacing dapat berguna dengan meletakkan mereka ke dalam sampah organik yang selanjutnya berubah menjadi kompos.

f.     Ubah pola makan
Jika orang Amerika banyak berjalan dan menghindari makan daging merah, kita dapat menurunkan emisi karbon dioksida dan menyerang epidemi kegemukan. Seorang ilmuwan telah menghitung bahwa jika semua orang Amerika berusia antara 10 sampai 74 tahun berjalan kaki setengah jam sehari sebagai pengganti naik mobil, maka itu akan memotong emisi karbon dioksida sebanyak 64 juta ton (dan juga beberapa kilogram berat tubuh). Badan pangan PBB, Food and Agriculture Organization melaporkan bahwa industri daging merah bertanggung jawab atas 18% dari emisi gas, melalui penggunaan pupuk buatan, pupuk kkitang dan energi yang diperlukan untuk transportasi pakan ternak dan daging merah.

g.    Mengubur gas karbon
Ketika kita terus memanasi bumi dengan karbon dioksida, beberapa ilmuwan mengusulkan untuk menarik gas karbon dioksida yang berlebih dan menyimpannya ke suatu tempat, mungkin di bawah tanah, lapisan batu bara atau ladang gas dan minyak yang sudah kosong. Untuk melakukannya, karbon dioksida harus di pisahkan dari pabrik, di kompresi dan di injeksikan ke bawah tanah, yang mana akan bertahan selama ribuan tahun. Masih terdapat beberapa pertanyaan mengenai biaya penyedotan karbon dioksida dari pabrik, dan masalah lingkungan terhadap bocornya gas dari dalam tanah.

h.    Hidup dengan sampah
Ini bukan berarti kita harus berhenti membuang sampah setiap minggu dan memulai hidup di lautan tisu dan pembungkus makanan. Seorang ahli teknik dari University of Leeds di Inggris telah membuat material bangunan dari bahan limbah (seperti kaca daur ulang, abu bekas pembakaran). Bitublocks ini dapat digunakan untuk membangun rumah. Selain itu dalam pembuatannya juga memakan energi lebih sedikit dibandingkan dengan pembuatan batako. Ilmuwan lain juga telah mengajukan proposal penggunaan material limbah dari peternakan unggas, seperti bulu ayam untuk membuat plastik ramah lingkungan.

i.      Memotong emisi gas
Proposal untuk merubah polusi yang dihasilkan oleh pembangkit energi, membatasi jumlah karbon dioksida pada bisnis, industri atau negara, atau pengenaan pajak terhadap emisi gas akan membawa emisi ke level yang lebih rendah secara menyeluruh, dan banyak negara telah menkitatangani secara sukarela janji untuk memotong emisi pada Protokol Kyoto. Beberapa negara bagian, terutama California, telah mendorong suatu regulasi untuk mengatasi karbon dioksida.

j.      Membatasi penggunaan kantong plastik dan lampu pijar
Ini mungkin terdengar seperti keputusan yang terburu-buru, tetapi San Francisco, Cina dan Australia semua sudah menerapkannya. Cina menginginkan membersihkan negaranya dari “polusi putih” — kantong-kantong plastik yang menyumbat jalan dan pembuangan air.

(03September2012)

BACAAN :

1.    Arief, A. 1994, Hutan Hakekat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Yayasan Obor Indonesia Jakarta.
2.    Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.
3.    Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
4.    Odum, E. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Terjemahan oleh Tjahjono samingan dari buku Fundamentals Ecology. UGM Press. Yogyakarta
5.    Resosoedarmo, S., K. Kartawinata, dan A. Soegiarto. 1986. Pengantar Ekologi. Penerbit Redmaja Rosda Karya. Bandung
6.    Richard & Steven, 1988. Forest Ecosystem : Academic Press. San Diego. California.
7.    Setiadi, Y. 1983. Pengertian Dasar Tentang Konsep Ekosistem. Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Bogor
8.    Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Link :
1.   http://afand.abatasa.com/post/detail/2405/lingkungan-hidup-kerusakan-lingkungan-pengertian-kerusakan-linkungan-dan-pelestarian-.htm.
2.    http://palingseru.com/8912/10-ide-unik-untuk-mengatasi-masalah-lingkungan.
3.    http://timpakul.web.id/enam-masalah-lingkungan-hidup.html.



Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template