MENGURANGI
BANJIR DAN MENCEGAH KEKERINGAN SERTA MENYEJAHTERAKAN RAKYAT
A. Syarifuddin Karama*
Di musim hujan
terjadi banjir, longsor dan erosi yang makin parah dari tahun ke tahun. Pada
keadaan vegetasi hutan masih utuh banjir sudah terjadi. Sekarang, vegetasi
hutan serta kapasitas serap dan tampung air daratan telah banyak berkurang,
banjir makin intensif. Cadangan air untuk musim kemarau makin sedikit.
Akibatnya di musim kemarau kita menderita kekeringan. Banjir dan
kekeringan merugikan pertanian, perkebunan, peternakan, dan kehutanan serta
berdampak buruk bagi permukiman, perdagangan, perindustrian, pelistrikan,
pariwisata, kesehatan dan keamanan.
Untuk
mengurangi banjir dan mencegah kekeringan dibangun sebanyak mungkin embung,
waduk kecil, situ, cek dam diperluas dan sumur / lubang resapan serta
sumur Tirta Sakti, mulai dari bagian hulu (atas), bagian tengah sampai
ke bagian hilir (bawah) daerah tangkapan hujan (watershed) di kawasan kehutanan, pertanian, perindustrian,
permukiman dan lain-lain. Kegiatan ini dapat dilakukan warga masyarakat dengan
sedikit bantuan pemerintah dan bimbingan tenaga teknis, sehingga relatif murah,
mudah, cepat dan dapat merata di seluruh daerah.
Pencegahan
banjir jelas mensejahterakan rakyat. Air yang ditampung dalam embung, waduk,
dan cek-dam, atau disimpan di dalam tanah melalui sumur / lubang resapan
dan sumur Tirta Sakti dapat dipakai untuk meningkatkan produksi pertanian,
perkebunan, peternakan, kehutanan, serta untuk keperluan rumah tangga /
permukiman, industri dan lain-lain di musim kemarau maupun musim hujan.
Berbagai hal
tersebut akan membuka kesempatan kerja dan usaha seerta memperoleh penghasilan
untuk kesejahteraan rakyat dan pendapatan negara.
PENDAHULUAN
Air adalah anugerah Tuhan. Jumlahnya
sangat banyak, jauh melebihi semua keperluan (Meinzen Dick and Rosegrant,
2001). Setiap mahluk hidup memerlukan air. Air memang bukan segalanya,
tetapi tanpa air segalanya tiada berarti.
Karena tidak dikelola dengan baik,
air nikmat Tuhan tersebut sering menimbulkan masalah. Di musim hujan banyak
terjadi banjir, longsor, erosi. Nilai korban dan kerusakan yang diakibatkannya
mencapai triliunan rupiah serta cenderung makin besar. Banyak penduduk
bertambah miskin karenanya. Sulit menilai harga nyawa manusia yang hilang
sebagai korban banjir dan longsor.
Sebaliknya, di musim kemarau kita
menderita kekurangan air. Selain itu jumlahnya kurang seringkali kualitasnya
buruk; antara lain tercemar polutan, salinitas tinggi, masam, berbau tidak
sedap, mengandung banyak butir tanah, kuman, dan lain-l;ain (Van Damme, 2001).
Sulit menghitung kerugian karena kekeringan dan terlebih lagi karena turunnya
kualitas air. Kemiskinan pun meningkat karena kekeringan.
Tulisan ini membahas tentang sebab
terjadinya banjir dan kekeringan. Kemudian dikemukakan cara mengurangi atau
mencegahnya yang murah dan sederhana, berdasarkan pengalaman dan studi di
bantul – DIY dan DAS Kaligarang – Semarang, serta pengalaman neara lain. Di
makalah ini pengurangan banjir dan pencegahan kekeringan dikaitkan dengan upaya
peningkatan kesejahteraan rakyat terutama melalui sektor pertanian, tanpa
mengabaikan manfaat yang sangat besar melalui sektor lain.
BANJIR,
EROSI DAN LONGSOR
Tanah mempunyai kemampuan tertentu
untuk menyerap dan menyimpan air. Kemampuan ini tergantung tekstur, struktur,
kandungan bahan organik, ketebalan dan kepadatan solum tanah, serta keadaan
vegetasi pada tanah tersebut. Bila jumlah air yang datang lebih besar dari
kemampuan tanah menyerap air dan tidak ada jalur untuk air tersebut bergerak ke
tempat lain, maka air yang tidak terserap akan menggenangi tanah tersebut. Bila
jumlah air yang datang lebih besar dari kemampuan tanah menyerap air dan tidak
ada jalur untuk air tersebut bergerak ke tempat lain, maka air yang tidak
terserap akan menggenangi tanah tersebut. Kalau air yang tidak terserap
tersebut mengalir ke tempat lain, disebut aliran permukaan (run off).
Bila aliran permukaan ini jumlahnya besar dan bergerak cepat, daya rusaknya
besar terhadap lahan yang dilaluinya. Air aliran permukaan secara alami akan
berkumpul dan menggenangi tempat yang lebih rendah yaitu danau dan rawa atau
masuk ke sungai dan terus mengalir ke laut. Selama kelebihan air tertampung
oleh danau, rawa dan sungai, banjir tidak terjadi. Bila jumlah air yang masuk
ke sungai lebih besar daripada air yang keluar ke laut, maka air akan meluap,
menggenangi lahan di sekitar sungai, danau dan rawa tersebut. Genangan, luapan
dan aliran permukaan yang cukup besar disebut banjir.
Aliran permukaan seringkali membawa
butir tanah dan humus dari tanah yang dilaluinya disebut erosi. Bahan yang
terbawa terebut diendapkan kembali antara lain di danau, rawa, sungai, serta di
kawasan banjir dan di laut.
Air yang tergenang dan meresap ke
dalam tanah meningkatkan bobot dan daya tekan terhadap tanah di bawahnya. Kalau
daya tanah lebih kecil dari bobot tanah serta air di atas dan di
dalamnya, maka pada lokasi yang miring badan tanah tersebut akan bergerak ke
bawah yang disebut longsor. Longsor juga tergantung adanya penahan /
pengikat tanah, disamping kemiringan, serta faktor-faltor yang mempengaruhi
daya serap air. Penahan dan pengikat tanah adalah perakaran pohon. Tanah yang
mengalami kekeringan parah di musim kemarau sangat mudah longsor bila mendapat
banyak air di musim hujan.
Di musim hujan, seringkali jumlah
air hujan dalam waktu tertentu melebihi kemampuan lahan menyerap, menyiompan
dan menampung air. Air kelebihan ini akan mengalir di permukaan tanah dan
menyebabkan terjadinya banjuir, eropsi dan longsor. Pada keadaan begetasi hutan
masih utuh, banir sudah teriong terjadim, tetapi longsor dan erosi jarang
terjadi,. Sekarang, vegetasi hutan dan kemampuan lahan menyerap dan menyimpan
air banyuak berkirang, maka banir, longsor dan eroi lebih sering tyerjkadi dal lebih
parah akibatynya. Jika ada La-Nina, banjir, longsior dan segala akibatnya
sangat parah. Aada atau tidak ada La-Nina, banjior selalu ada. Oleh karena itru
upaya pengurangan dan pengendalian banjir haruis dilakukan seoptimal mungkin.
KEKERINGAN
Air keluar dari tanah berupa
penguapan ke udara langsung dari permukaan tanah (evaporasi), melalui
tanaman (transpirasi), mengalir ke lapisan yang lebih dalam (perkolasi), dan
bergerak ke samping (seepange). Sebagian air perkolasi dan seepage
akan keluar kembali di tempat yang lebih rendah melalui mata air ke sumur,
danau, sungai. Sebagian lainnya akan mengisi aquifer.
Perkolasi dan seepage terjadi
bila tanah jenuh air, misalnya, setelah hujan lebat atau setelah diirigasi
sampai jenuh air. Pada saat perkolasi dan seepage berhenti, kelembaban
tanah berada pada kapasitas lapang. Evaporasi dan transpirasi mengurangi
kelembaban tanah lebih lanjut. Kalau kelembaban tanah terus berkurang sampai
mencapai titik laju permanen dan tidak ada pasokan air, tanaman mati kekeringan.
Umumnya tanaman terganggu kalau kelembaban tanah 75% kapasitas lapang
atau lebih kering. Makin dekat kelembaban tanah ke layu permanen, makin kecil
evaporasi dan transpirasi serta makin rendah produksi tanaman dan mutu
hasilnya. Keadaan ini umumnya terjadi bila tidak ada hujan efektif atau
pengairan selama 5 hari atau lebih berturut-turut.
Kalau lama tidak ada hujan (satu
bulan atau lebih), maka pengisian air danau, rawa, waduk dan sungai makin
berkurang bahkan berhenti. Bersamaan dengan ini, evaporasi, transpirasi,
perkolasi, seepage dan aliran ke laut terus berlangsung. Pada
keadaan ini bukan hanya tanah dan tanaman yang mengalami kekeringan, tetapi
juga lahan dan kawasan.
Kekeringan pada lahan dan kawasan
selain mengurangi produktivitas dan kualitas hasil tanaman, juga
menganggu kehutanan, peternakan dan perikanan serta sektor lain seperti
permukiman, perlistrikan, perdagangan, perindustrian, pariwisata, lingkungan
hidup, kesehatan, dan keamanan. Tidak tersedianya air di kawasan hutan di musim
kemarau mempersulit upaya mengatasi kebakaran hutan, serta memelihara tanaman
reboisasi dan penghijaun lahan yang terbuka.
Kekeringan
makin intensif, karena jumlah air yang dapat
disimpan di dataran selama musim hujan sebagai cadangan air bagi musim kemarau
semakin berkurang. Selain itu, kualitas air juga makin rendah. Hasil pengamatan
Fakultas Geografi Universitas Gajahmada di beberapa daerah, menemukan bahwa
setelah pembukaan hutan primer, jumlah hujan berkurang cukup besar, namun pola
distribusi tahunannya tetap sama. Kekeringan sangat parah jika terjadi El-Nino.
Ada atau tidak ada El-Nino, akhir-akhir ini kekeringan selalu ada, dan semakin
parah. Oleh karena itu kita harus berupaya semaksimal mungkn mencegah
terjadinya kekeringan.
PENGAIRAN
Air tanah dapat mengisi kelembaban
tanah diperakaran tanaman melalui kapilarisasi, tetapi jarang mencapai
kapasitas lapangan. Oleh karena itu, untuk mencegah kekeringan dan memperoleh
jumlah dan mutu produksi tanaman yang tinggi, diperlukan pengairan agar
kelembaban tanah selalu optimal yaitu berada di sekitar kapasitas lapang.
Air pengairan dapat berasal
dari danau, waduk, sungai, air tanah (sumur), aquifer, embung, kolam, dan situ.
Pada dasarnya waduk, embung, kolam, dan situ adalah danau buatan yang menampung
air aliran perrmukaan.
Pengairan di Indonesia sangat
fluktuatif, mengikuti pola hujan. Di musim hujan tersedia air pengairan bagi
sekitar 4,6 juta ha dan di musim kemarau sekitar 1,7 juta ha (FAO, 2000).
Sistem pengairan di Indonesia selama ini banyak mendukung usaha budidaya padi
sawah. Untuk keperluan tanaman lain, ternak dan ikan sangat terbatas. Air dari
waduk-waduk besar dipakai juga untuk keperluan pembangkit tenaga lisrik, air
minum, industrri dan kebersihan kota. Jika terjadi kekurangan air, maka air
untuk pertanian mendapat prioritas rendah (Rosegrant and Cai, 2001).
Pada lahan tadah hujan, meskipun di
musim hujan, produktivitas tanaman tidak maksimal, seringkali hanya 50 – 60
persen dari produktivitas tanaman yang diirigasi. Misalnya, produktivitas
jagung hibrida pada lahan tadah hujan di musim hujan hanya sekitar 5 ton/ha;
jika diirigasi dapat mencapai 8 – 10 ton/ha. Di musim kemarau perbedaan
produktivitas ini lebih besar (Karama dan Kaswanda, 2001a).
Dengan fluktuasi pengairan seperti
di atas, sebagian besar tanaman ditanam di musim hujan (Oktober – Desember),
sehingga panen menumpuk di pertengahan atau di akhir musim hujan yaitu bulan
Januari sampai April (BPS 1999a, BPS 199b). Akibatnya, seringkali
produktifitas tidak maksimal dan mutu produksi tidak prima karena sarana
prasarana pengeringan dan pengolahan terbatas. Selain itu sarana prasarana
produksi dan pengolahan hasil serta alat mesin pertanian bekerja keras di musim
hujan dan kurang terpakai di musim kemarau. Fluktuasi ini merendahkan efisiensi
usaha subsistem agribisnis hulu dan hilir, disamping usaha subsistem budidaya,
sehingga daya saing produk pertanian Indonesia relatif lemah.
MENGURANGI
BANJIR DAN MENCEGAH KEKERINGAN
Kapasitas lahan menyerap air,
kapasitas tampung danau dan rawa serta kapasitas sungai menampung dan
menyalurkan air makin kecil, sehingga banjir makin parah. Jumlah air yang
ditahan dan disimpan di daratan makin kecil, sehingga persediaan air untuk
musim kemarau makin sedikit dan kekeringan makin parah pula.
Logisnya untuk mengurangi banjir dan
mencegah kekeringan adalah dengan memperbesar kapasitas daratan menahan
dan menyimpan air, yaitu memperbesar kapasitas lahan menyerap air serta
kapasitas tampung danau, rawa dan sungai. Pengerukan sungai dan danau untuk
memperbesar kapasitasnya dapat dilakukan kalau tersedia dana yang cukup besar.
Kenyataannya, kita selalu kekurangan dana untuk keperluan ini.
Memperbesar kapasitas lahan menyerap
air antara lain dengan memperluas kembali lahan yang tertutup vegetasi dengan
baik. Namun tidak semua lahan yang sudah terbuka dapat ditanami kembali. Selain
itu untuk vegetasi baru berfungsi memperbaiki kapasitas lahan menyerap air
dengan baik diperlukan waktu yang relatif lama. Seringkali kita gagal menanami
kembali lahan terbuka karena kekeringan, kebakaran, diganggu aliran permukaan
atau berbagai penyebab lain.
Membangun danau atau waduk
raksasa seperti Jatiluhur sangat mahal, memerlukan teknologi
tinggi /tenaga ahli khusus, lokasinya terbatas, hasilnya terkonsentrasi pada
kawasan tertentu, serta mempunyai beberapa dampak negatif terhadap lingkungan
sosial dan lingkungan hidup.
Upaya yang relatif sederhana dan
sangat mungkin dilakukan adalah membangun sebanyak mungkin kolam penampung
air ukuran kecil yang biasa dikenal embung atau waduk kecil, situ,
dan kolam. Penampungan air ini berkapasitas 4000 – 8000 meter kubik. Penampung
air kecil dapat dibangun oleh masyarakat, karena tidak memerlukan
keahlian tinggi, hanya dengan konstruksi tanah, relatif murah dan mudah menempatkannya
di lapang.
Meskipun demikian, di daerah
berpenduduk padat seperti di Jawa, lokasi untuk membangun embung juga terbatas.
Upaya lain untuk menampjung / menyimpan kelebihan air adalah dengan membuat sumur
resapan sebanyak mungkin. Melalui sumur resapan, air diresapkan ke lapisan
tanah yang lebih dalam dan lebih luas sehingga kapasitas resapnya menjadi lebih
besar. Sumur resapan ini efektif pada lokasi yang tinggi seperti di puncak dan
di lereng bukit atau gunung. Sumur resapan dapat dibuat di halaman rumah,
kantor, sekolah, pasar, kebun, hutan, tegalan, di dalam embung dan sebagainya,
tidak memerlukan lahan yang luas dan tidak banyak menggangu keperluan lain.
Bagi kebanyakan warga masyarakat,
terutama di pedesaan dan kawasan urban, biaya pembuatan sumur resapan dirasakan
mahal, yaitu di sekitar Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah) per sumur. Oleh
karena itu masyarakat lebih menyukai lubang atau rorak resapan. Lubang resapan
ini berukuran (1-3) x (1-3) x (2-3) meter kubik. Bentuk yang lebih sederhana adalah
lubang berdiameter 10 – 15 cm dan 2 – 3 meter dalamnya. Lubang sederhana ini
dapat dibuat berbaris sepanjang pagar atau berkumpul 10 – 20 lubang di satu
tempat. Lubang resapan sebaiknya diisi sampah organik, yang berfungsi untuk
menahan dinding lubang agar tidak runtuh, anak-anak dan hewan peliharaan tidak
terperosok, menyuburkan tanah dan sebagai media hidup dan berkembangnya cacing
tanah. Keberadaan cacing tanah sangat penting untuk melubangi dinding rorak,
sehingga daya resap tanah makin besar. Lubang resapan dapat dibuat di halaman,
di kebun, tegalan, di pasar, di kiri kanan jalan raya, di taman dan lain-lain.
Di dataran rendah, dekat pantai
(Jakarta, Semarang, Surabaya, Banjarmasin dll) yang air tanahnya dangkal atau
tanahnya terlalu jenuh air atau kedap air, sumur lubang resapan biasa tidak
efektif. Kelebihan air di kawasan seperti ini harus dimaksukkan ke lapisan
aquifer melalui sumur Tirta Sakti. Air yang dimasukkan ke “aquifer” harus
memenuhi syarat-syarat tertentu. Sumur Tirta Sakti dikembangkan oleh
Universitas Trisakti, Jakarta, dan ada contohnya di sana. Sumur Tirta Sakti ini
pun dapat dibuat di berbagai tempat dan tidak memerlukan lahan yang luas
(Juawana dan Sabri, 2001).
Di kiri-kanan sungai besar dan
di sekeliling danau yang selalu diluapi banjir di musim hujan, sebaiknya
dibangun embung sebanyak mungkin, untuk menampung dan menyimpan air luapan
(Imam Utomo, Guibernur Propinsi Jawa Timur, 2001, komunikasi pribadi). Di
sepanjang sungai kecil sering dibuat cek dam. Namun selama ini kapasitas
tampung air cek dam relatif sangat kecil. Untuk menambah kapasitas cek dam,
bagian sebelah hulu dam dapat diperdalam dan diperluas.
Air di dalam embung, waduk, situ,
kolam, cek dam, yang diresap oleh sumur / lubang resapan dan yang
dimasukkan ke aquifer, memperbesar jumlah air yang tertahan / tersimpan di
daratan. Air ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan di musim kemarau untuk
mencegah kekeringan. Jika perlu dipergunakan pompa untuk memanfaatkan air ini.
Secara singkat disimpulkan untuk
mengurangi banjir dan mencegah kekeringan sebagai suatu kesatuan upaya adalah
dengan membangun penampung air kecil, sek dam diperbesar, “sumur/lubang
resapan” dan sumur Tirta Sakti sebanyak mungkin mulai dari bagi hulu
(atas), bagian tengah sampai bagian hilir (bawah), kawasan luapan banjir (flood
plain) di setiap daerah tangkapan hujan (watershed) di kawasan
hutan, pertanian, permukiman, perindustrian, pertamanan dan lain-lain (Karama
dan Kaswanda, 2001b) dan 2001c). Kegiatan ini dapat dilakukan oleh warga
masyarakat dengan sedikit bantuan dari pemerintah dan bimbingan tenaga teknis.
Bersamaan dengan kegiatan ini, agar dilakukan penanaman kembali lahan terbuka
seluas mungkin. Pengalaman lapangan menunjukan bahwa penanaman kembali vegetasi
di lahan terbuka akan berhasil bila ada air untuk menyiram tanaman serta
memadam kebakaran, serta tidak ada aliran permukaan yang menerjang dan
menghanyutkan tanaman. Keberadaan air embung dan sumur resapan dapat mengatasi
masalah ini dan agar tetap dipertahankan meskipun vegetasi sudah pulih kembali.
Membangun embung, waduk kecil, situ,
cek dam diperbesar, sumur / lubang resapan dan sumur Tirta Sakti jauh lebih murah,
mudah, cepat, merata di seluruh daerah, lebih efektif dan efisien daripada
membangun waduk atau bendungan raksasa pada kondisi negara Indonesia seperti
sekarang. Negara-negara maju sepeti Australia, Perancis dan USA membangun
embung dan sejenis serta sumur resapan.
MENYEJAHTERAKAN
RAKYAT
Banjir, erosi, logsor dan kekeringan
jelas menyengsarakan rakyat. Oleh karena itu mencegah terjadinya bencana
tersebut lebih baik dan lebih murah dari pada menanggulangi akibatnya.
Pencegahan terjadinya bencana tersebut adalah salah satu bentuk mensejahterakan
rakyat.
Akan lebih bermanfaat bila upaya
pencegahan dilakukan dengan membuat embung, situ, waduk, kolam, serta cek dam
diperluas dan diperdalam, sumur/lubang resapan atau sumur Tirta Sakti daripada
memperdalam sungai dan danau atau membuat saluran khusus untuk membuang air
ke laut.
Di musim kemarau, air yang
tersimpan, di permukaan atau di dalam tanah dapat dipakai untuk bertanam,
sehingga fluktuasi produksi, fluktuasi aktifitas pertanian serta fluktuasi
penggunaan sarana dan prasarana pertanian dapat diminimalkan. Selain itu mutu
dan jumlah hasil pertanian akan meningkat. Sistem pertanian yang demikian akan
efisien dan berkelanjutan, sehingga daya saing produk pertaniannya menjadi
lebih kuat.
Air permukaan dan air tanah tesebut
dapat juga dipakai untuk memelihara ternak dan ikan, memenuhi keperluan rumah
tangga, industr, penghijauan, reboisasi, pariwisata, listrik dan lain-lain.
Salah satu faktor yang menghambat perkembangan teknak di Indonesia adalah
kekurangan air minum ternak dan air untuk tanaman pakan ternak di musim
kemarau.
Hal-hal yang dikemukakan di atas
akan membuka kesempatan berusaha serta memperoleh hasil dan pendapatan yang
lebih besar, akan mengurangi pengangguran dan kerusuhan. Dengan membangun
embung, situ, waduk, kolam, cek dam diperluas, sumur / lubang resapan atau
Sumur Tirta Sakti kita merubah bencana, kesengsaraan dan kerusuhan menjadi
kesejahteraan keamanan dan kedamaian.
PENGORGANISASIAN
DAN PEMBIAYAAN
Berdasarkan ukuran, hubungan antara
jenis metoda, manfaat dan kemampuan masyarakat, serta sistem pemerintahan
otonomi daerah / desentralistis, disarankan organisasi dan pembiayaan seperti
berikut :
Embung, situ, waduk dan cek dam
diprogramkan dibiayai oleh pemerintah propinsi atau kabupaten / kota. Pada
keadaan tertentu dapat melibatkan masyarakat dengan sistem padat karya.
Propinsi atau kabupaten yang wilayahnya luas dan tenaga kerja kurang, dapat
menggunakan alat-alat berat dalam pembangunannya. Bangunan-bangunan kelompok
ini yang agak besar ukurannya, perlu dirancang oleh tenaga ahli, untuk
menghindari risiko bobol dan lain-lain.
Sumur atau lubang resapan dapat
dikerjakan oleh masing-masing warga masyarakat dengan bimbingan dari jajaran
pemerintah daerah, desa, kecamatan, dan kabupaten / kota. Kalau warga mampu
membangun sumur resapan sendiri, itu akan sangat baik. Hal ini mungkin
dilakukan di kawasan permukiman mewah, kompleks pabrik / industri besar,
perhotelan, perkebunan besar, dll. Kebanyakan warga masyarakat mungkin harus
dimotivasi dengan insentif, kemudahan atau subsidi, misalnya di permukiman
rakyat umum, di pasar, di sekolah, perkantoran, kebun rakyat, tegalan umum, di
rumah ibadah, taman-taman umum dan lain-lain. Dana yang diperlukan untruk
setiap lubang resapan sekitar Rp. 10.000 (sepuluh ribu rupiah) sebagai insentif
atau upah padat karya.
BACAAN
1. Ban
Damme, H. 2001. Domestic Water
Supply, Hygiene, and Santation. Overcoming Water Scarcity and Quality
Constraints. IFPRI, Washington, DC, USA.
2. BPS
1999a, Survey Pertanian. Produksi Tanaman
Padi di Indonesia. Badan Pusat Statistik Indonesia, Jakarta.
3. —,
1999b, Survey Pertanian. Produksi
Tanaman Palawija di Indonesia. Badan Pusat Statistik Indonesia, Jakarta.
4. FAO,
2000. Selected Indicators of Food and
agriculture Development in Asia-Pasific Region 1989 – 1999. FAO Regional
Office for Asia and The Pasific, Bangkok, Thailand.
5. Juwana,
J.S. dan A. Sabri, 2001. Sumur Resapan
Tirta Sakti dalam Kaitannya dengan Potensi Persediaan Air Tanah. Seminar
Antisipasi El-Nino, Implementasi Budaya Hemat Air di Indonesia, PERAGI
bekerjasama dengan PERHIMPI, Bogor 21 – 22 Februari, 2001.
6. Karama,
A.S. dan Kaswanda, 2001a. Air dan
Ketahanan Panganserta Kesejahteraan Petani. Direktorat Jendeal Bina
Produksi Tanaman Pangan, Departemen Pertanian RI, Jakarta, Indonesia.
7. ——————–,
2001b. Membangun Embung (Penampung Air).
Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan, Departemen
Pertanian RI, Jakarta, Indonesia.
8. ——————–,
2001c. Mengisi Air Tanah dengan Sumur
Resapan dan Memanfaatkannya Kembali. Direktorat Jenderal Bina Produksi
Tanaman Pangan, Departemen Pertanian RI, Jakarta, Indonesia.
9. Meinzen-Dick,
R.S. and M.W. Rosegrant, 2001. Overview.
Overcoming Water Scarcity and Quality Constraints. IFPRI. Washington, DC,
USA.
Link : http://bebasbanjir2025.wordpress.com/10-makalah-tentang-banjir-2/a-syarifuddin-karama/
Link : http://bebasbanjir2025.wordpress.com/10-makalah-tentang-banjir-2/a-syarifuddin-karama/
* A. Syarifuddin Karama, staf ahli Menteri
Pertanian RI Bidang Teknologi / Ahli Peneliti Utama, Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian / Ketua Umum PERAGI.
